[Resensi] Dinamika Kehidupan A la Mahasiswa ITB

Judul: Gading-Gading Ganesha: Bahwa Cinta itu Ada
Penulis: Dermawan Wibisono
Penerbit: Ganesha Creative Industry dan Mizan Pustaka
Tahun Penerbitan: 2009
Tebal: 390 halaman

Slamet Hartono, Poltak Saut Batubara, Gun Gun Gunara, Mahmoud Fuad Juriatno, Benny Rozali, dan Ria Marcellina adalah para mahasiswa baru di Institut Teknologi Bandung tahun 1980-an. Keenam orang tersebut berkenalan satu sama lain ketika sedang daftar ulang di gedung rektorat. Perbedaan suku, asal wilayah, dan sifat pun tidak menghalangi mereka untuk menjadi sahabat.

Slamet yang idealis dan religius dari Trenggalek, Poltak yang ekspresif dari Pematang Siantar, Gun Gun yang pemalu dari Sunda, Fuad yang berani dari Surabaya, Benny yang manja dari Jakarta, dan Ria yang atraktif dari Padang. Berenam mereka menghadapi tahun-tahun sulit di ITB, tahun dimana rezim Suharto masih berkuasa. Sebagai sahabat, mereka saling membantu dan melindungi satu sama lain. Pernah suatu saat nyawa Ria terancam oleh orang bersenjata pisau ketika mereka sedang berwisata ke Gua Jepang. Saat mendengar teriakan Ria yang minta tolong, sahabat-sahabatnya membantu mengusir orang asing tersebut.

Waktu terus berlalu hingga bulan Oktober empat setengah tahun kemudian. Slamet berhasil lulus dari ITB dengan IPK yang memuaskan. Ria pun lulus dengan waktu yang sama meskipun tidak dengan IPK sebagus Slamet. Empat bulan kemudian, atau lebih tepatnya pada bulan Maret, Gun Gun menyusul Slamet dan Ria di gerbong kelulusan, yang lalu disusul Poltak setahun setelah Gun Gun lulus. Sementara itu, Benny hanya mampu menyelesaikan kuliah setelah tujuh setengah tahun, yang menjadi batas maksimal mahasiswa untuk lulus. Sayangnya, nasib Fuad tidaklah seberuntung teman-temannya di bidang akademis.

Selepas dari ITB, keenam sahabat itu pun menjalani kehidupan masing-masing. Ada yang menjadi dosen, pemusik, pengusaha, EO, dan lain-lain. Mereka pun harus berhadapan dengan berbagai tantangan hidup: cinta, godaan materi, korupsi, sistem birokrasi, hingga cobaan mempertahankan idealisme yang pernah mereka pegang teguh selama berstatus mahasiswa.

Kisah-kisah yang ada dalam buku ini sangat menarik dan seolah merefleksikan perjalanan hidup kita sebagai mahasiswa, dalam hal ini ITB, beserta segala dinamika kehidupan kampus. Di sini kita bisa belajar bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika kita mau berusaha. Bahkan Fuad yang tidak sempat menyelesaikan kuliah akhirnya mampu menjadi seorang pengusaha industri rotan yang sukses.

Sang penulis buku, Dermawan Wibisono, adalah seorang Sarjana Teknik Industri ITB tahun 1989. Beliau sudah menulis berbagai jenis buku diantaranya adalah Riset Bisnis: Panduan bagi Praktisi dan Akademisi (2003), Manajemen Kinerja: Konsep, Desain, dan Teknik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan (2006), Sang Juara: Misteri Hilangnya Shirley (2008), dan yang terbaru adalah Lentera Jiwa serta 3G (2009).

Kelebihan dari buku ini adalah kita dapat merasakan dinamika kampus ITB yang beragam. Berbagai kebudayaan dan kebiasaan yang terdapat di ITB pun dituangkan dalam novel ini. Selain itu, berbagai kutipan dari beragam tokoh yang terdapat di awal bab makin memperkental nuansa idealisme yang sesuai dengan darah mahasiswa.

Sayangnya, novel ini tidak menyebutkan latar waktu yang digunakan dalam cerita ini secara tepat. Hanya disebutkan bahwa cerita dalam novel ini dimulai sekitar tahun 1980-an, tidak disebutkan tepatnya tahun berapa.

Secara keseluruhan, novel 3G layak untuk dibaca. Penyebabnya antara lain novel yang diluncurkan dalam rangka memperingati ulang tahun emas ITB yang ke-50 dan akan difilmkan ini berbeda dari novel-novel lain yang sama-sama mengusung kehidupan kampus dan serba-serbinya, yang telah beredar di pasaran. Novel 3G mengusung nilai idealisme yang sangat kental, dan bagaimana mempertahankan idealisme di tengah berbagai cobaan kehidupan.

P.S: Terima kasih buat Pak Hendra Grandis atas kiriman bukunya (lagi). Novelnya bagus dan sangat inspiratif, cocok dibaca pas sedang istirahat kuliah.

Gambar novel diambil dari [post]-nya pak Grandis.

Tentang Reinhart

Don't wait. The time will never be just right.
Pos ini dipublikasikan di My Interest dan tag , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke [Resensi] Dinamika Kehidupan A la Mahasiswa ITB

  1. oemar bakrie berkata:

    Thanks ya sudah diulas di sini.

  2. Iya, sama-sama pak…🙂

  3. Fenty berkata:

    Pengen baca !!!! kemaren dengerin Delta FM katanya mau difilm-in, huhuhu … pinjem po’o ndu :p

  4. Wah, telat kalo mau pinjem. Bukunya kemarin saya pinjemin adik sepupu saya yang kuliah di UGM. Mungkin dibalikin lagi pas liburan semester.😛

  5. Arfi berkata:

    Hae. salam kenal dari saudara muda..
    anak ITB ya??

  6. arfi berkata:

    namanya kok sama arfinya ya??? hehehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s