Muak

Masjid selalu menjadi tempat yang menyenangkan. Masjid selalu menjadi tempat yang paling sejuk. Setidaknya itulah gambaran saya tentang masjid selama ini, sayangnya tidak sore ini.

Saya dan beberapa teman lain yang baru saja menjalani kuliah TPB, sedang mengerjakan tugas di masjid kebanggaan warga ITS, Manarul Ilmi. Masjid ini terkenal sejuk karena semilir angin yang cukup nyaman. Saat itu saya sedang enak-enaknya mengerjakan tugas dengan meminjam laptop teman. Kebetulan, saya mengerjakan tugas di serambi utara, dan kebetulan juga lumayan banyak mahasiswa yang berada disana.

Saat waktu menunjukkan pukul 14.25, saya segera menyimpan tugas di flashdisk butut saya. Karena waktu sudah menunjukkan mendekati waktu sholat, saya segera menuju tempat wudhu. Sesudah berwudhu, saya kembali ke tempat semula dengan maksud akan mengambil tas. Tapi, apa yang saya lihat dan dengar disana benar-benar luar biasa. Di luar perkiraan saya.

Saat itu sudah adzan Ashar, lalu setelah adzan selesai, seorang bapak berbaju putih datang. Di luar dugaan, beliau memaki-maki dengan seenaknya para mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas. Dia bilang bahwa kalau mahasiswa-mahasiswa tersebut tidak sholat, mereka harus turun dari serambi. Tapi, kemudian ada seorang mahasiswa di masjid tersebut yang mengatakan bahwa dia non-muslim. Apa Anda semua tahu reaksi beliau? Beliau berteriak seperti ini dengan suara yang bisa meruntuhkan rektorat:

Ada non-muslim!! Ada non-muslim di masjid!!!

Geez, what’s this racial statement meant?
Sampai disini, ada dua permasalahan yang saya rasa sedikit… aneh.😕

Pertama, masalah mahasiswa yang tidak sholat harus turun dari serambi. Yang aneh disini adalah, serambi utara MMI yang saya tempati tadi cukup luas. Kira-kira seluas 7×20 meter. Jadi sangat tidak masuk akal kalau kegiatan yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa tersebut mengganggu orang yang sedang sholat, karena bagian dalam masjidnya cukup luas. Lagipula, mereka mahasiswa. Mereka pasti sudah tahu bahwa dilarang mengganggu orang yang sedang beribadah.😉

Memang, kalau sudah adzan sebaiknya kita segera sholat. Para mahasiswa disana juga sudah mengerti hal itu. Tapi tidak perlu dengan paksaan. Tidak perlu ada makian. Bayangkan bagaimana perasaan Anda saat sedang mengerjakan tugas atau sedang istirahat, kemudian ada orang yang sok agamis datang dan menyemprot Anda dengan berbagai teriakan dan makian.

Kedua, tentang si mahasiswa yang mengaku non-muslim. Kenapa memangnya? Apakah masjid itu sudah jadi hak istimewa orang-orang muslim saja? Apakah, selain muslim, masjid adalah tempat yang terlarang untuk didatangi? Now, this IS a serious matter.😕

Mahasiswa tersebut duduknya jauh dari para jamaah, kalau memang alasannya takut mengganggu. Mahasiswa tersebut tidak sedang bercanda atau ngobrol dengan temannya, dia sedang tekun mengerjakan tugas. Dia berada disana mungkin karena dia sedang menunggu jadwal kuliah selanjutnya yang kebetulan lokasinya berada di dekat masjid Manarul Ilmi. Apakah dia tidak boleh ikut beristirahat sambil mengerjakan tugas di masjid hanya karena dia non-muslim?

Yah, kejadian ini bukan pertama kali saya alami. Sebelumnya saya pernah mengalami kejadian serupa, dan yang jadi sasaran adalah saya dan beberapa teman satu jurusan. Saat itu sudah pukul 12.15, saya sedang mengerjakan tugas, yang karenanya kami jadi agak terlambat ikut sholat berjamaah. Saya dan beberapa teman saya melakukan sedikit diskusi saat mengerjakan tugas, tapi dengan suara rendah.

Di belakang saya, terdapat beberapa mahasiswa yang mengobrol dengan suara agak tinggi. Kemudian mereka pergi meninggalkan lokasi tanpa rasa bersalah, sehingga tinggal saya dan beberapa teman saya yang ada disana. Lalu datanglah seorang bapak, yang karena kekurangtahuannya, langsung membentak kami dan mengata-ngatai kami kafir karena menyangka kami yang ribut-ribut saat sholat.

Oke, kejadian pertama saya bisa maklum karena terjadi misunderstanding, tapi kejadian kedua sudah benar-benar tidak bisa saya terima. Ucapan yang sangat menyinggung, dan dikatakan dengan suara berapi-api.

Dia ini anggota FPI atau apa? Kok terlihat sekali anti terhadap yang namanya non-muslim.😛
*fallacy*

Setelah kejadian ini, image masjid sebagai tempat menyenangkan dan sejuk pun lenyap.

You know, guys? Saya muak dengan semua ini. Muak dengan segala kefanatikan yang berlebihan. Muak terhadap segala hal rasial ini.

MUAK.

Tentang Reinhart

Don't wait. The time will never be just right.
Pos ini dipublikasikan di Live Journal, My Interest, My Thoughts dan tag , , , . Tandai permalink.

56 Balasan ke Muak

  1. Dhani Aristyawan berkata:

    Agama = kepercayaan = faith
    Faith > believe > trust
    Sometimes faith > logic
    sometimes faith > tolerance
    so, much faith with no logic and tolerance results in WAR !

  2. Catshade berkata:

    @Dhani:

    Tapi faith nggak selalu sinonim dengan agama lho… Nasionalisme yang berlebihan atau superioritas ras menurut saya bisa dibilang faith juga, dan secara historis memang sudah banyak mengobarkan perang juga.

  3. @Catshade:
    Bukannya ada yang namanya civic religion?😛

    @Gyl:

    Tapi mengenai dalil non-muslim tidak boleh di masjid. Ada kok. Tapi ada penjelasannya. Penjelasannya kurang lebih karena mereka tidak pernah mandi junub.

    Bukannya kalau di serambinya aja ngga apa-apa ya?😕 CMIIW.

  4. shei berkata:

    Di tempat shei, Univ. Paramadina Jakarta lebih heboh.
    Masjid= Tempat nongkrong. Mungkin dari kacamata Pandu, dia jadi “pelaku” yang kemdian disuruh keluar oleh pihak mesjid ya?
    kalo saia jadi yang ‘pengen ngusir ‘ mereka gitu.
    Parah banget!
    Mereka berdiskusi, bergosip, ngapa-ngapain di mesjid termasuk wi-fi an, okelah, selama tidak mengganggu gak papa, tapi mempertimbangkan ukuran MUSALA yang tidak terlalu besar, suara sekecil apapun juga bisa nyaring kemana-mana disekitar tempat itu. Heran deh, pada bebal ya? ada orang solat gitu juga masih aja sibuk tereak2…
    rese abis..
    mungkin sikap dari pengurus mesjid Pandu mengantisipasi kejadian sperti itu, karena tidak semua bisa mengerti arti ‘di mesjid tanpa bersuara dan menghargai orang yang sedang beribadah’ seandaainya orang seperti itu ada di paramadina >_______<

  5. aR_eRos berkata:

    “generalisasi”
    itulah yang dilakukan bapak tsb. siapa sajah yang tidak sholat di anggap pengganggu yang bisa biasa nggosip, teriak2 atau apalah pas ada yang sholat. sehingga bapaknya menganggap sama, meski pandu and the gank cuma duduk2 ato ngerjain tugas.

    @shei: *cari linggis bantuin ngusir* xixixi

  6. aR_eRos berkata:

    MUAK !!!

    tau kenapa? au ahh sayah lagi muak sama pandu wkakakaka *piss*

  7. dhanie-K berkata:

    Salam kenal..
    ^_^

  8. fantasyforever berkata:

    @catshade, maybe.🙂

  9. galihyonk berkata:

    Sabar sabar….

    orang sabar di sayang tuhan…:mrgreen:

  10. Dhani Aristyawan berkata:

    @catshade :

    yup, se7. Pokok’e faith iku rek kakehan yo welek,

  11. saKuZo berkata:

    Lha mas. ? Emg tu bapak sopo tho? Ko’ sotau gt.

    Stuju sma mbak rei. ! Ak g suka org yg membedakan agama gt.

  12. tu2t berkata:

    *speechless*

    yah.. gimana yah…
    sebel juga siyh ama orang kayak gituh..
    mengingat dulu sewaktu SMA saiyah selalu bersitegang ama anak2 SKI gara2 omongannya yang radikal..

    pokoknya urusan ini.. gak ikut2 komen degh..

    dan satu laghee…
    alangkah lebih indah kalau kita toleransi dan menghormati agama lain.. itu kan hak mereka.. ya nggak??😉

    karena dengan adanya sikap menghormati dan toleransi antar umat beragama ini, keluarga besarku jadi kompak..

    bukannya perbedaan itu indah? kita hanya perlu memaknainya dengan hati yang tenang😀

  13. Naruto berkata:

    @galihyonk

    andaikan banyak orang yang bersabar, pasti dunia ini akan tentram … ^_^

  14. Gyl berkata:

    @xaliber
    Wow.. ditanggapi😀

    Hehe sori. Gini.. itu dia. Masalah wilayah masjid. Terkadang gak jelas wilayahnya. Kalo di masjid yang di kampus saya itu sendiri, ada namanya serambi dan ruang utama.

    Kalo menurut saya sendiri, di serambi sebenarnya gak masalah. Karena pengalaman saya biasanya definisi gak boleh masuk itu biasanya ruang utama masjid.

    Dan sekali lagi, memang yang jadi masalah adalah cara menyampaikan😉

    Saya sendiri ada pengalaman seperti itu, dan saya pikir itu sangat tidak baik. Justru menjadi konflik berkepanjangan. Ya kayak gini ini

  15. ghani arasyid berkata:

    Wah, menyangkut nama Manarul Ilmi nih😀

    Agak aneh juga kejadian yang sampeyan alami, saya saja 3 tahun di ITS ndak pernah mengalami hal di luar kelaziman tersebut.

    Menurut saya, apa yang dilakukan orang tersebut benar-benar tidak sesuai dengan cara berdakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

    Tapi dalam suatu kejadian pasti ada hikmahnya, cobalah berpikir postif… jangan emosi dalam menyikapi sesuatu. Apalagi masjid adalah rumah Allah, maka seharusnya di tempat tersebut yang lebih diutamakan adalah untuk ibadah, bukan kegiatan lainnya.

    Karena setiap muslim laki-laki sesungguhnya wajib shalat jama’ah apabila mendengarkan adzan. Berikut mungkin bisa dijadikan tips…

    http://ghaniarasyid.wordpress.com/2008/09/17/waktu-shalat-vs-jadwal-kuliah-dan-solusinya/

    Tentang larangan non-muslim memasuki masjid itu sama sekali tidak ada dalilnya, hal ini juga yang sempat saya dan teman saya alami di Masjid Rahmat, Kuta-Bali, di sela-sela kerja praktek di DSDP…

    http://fitrahfitri.wordpress.com/2008/08/06/

    Wallahu a’lam bish shawab…

  16. tituchio berkata:

    sabar ndu…
    orang kaya’ gitu emang bener-bener nyebelin
    aq sendiri juga pernah dimarah-marahin orang yang sama ga’ jelasnya gitu

    oiya numpang promo ni, di 2005 sekarang lagi banyak beredar project-project open source lho
    keren-keren, diantaranya
    * Air Putih
    * EasyCost
    * FuseE!
    * GledkAV!
    * Hanif
    * JBnet
    * K-Soft
    * Kandang Kambing
    * NOS!
    * ParkD
    * Purezilla

    list alamatnya ada di blognya bu Iin, dosen kita yang OK

    http://ai23.wordpress.com

  17. Strife Leonhart berkata:

    kejadian serupa juga pernah kutemui di masjid terbesar di Kalimantan Selatan… kejadiannya sih turis bule yg lagi foto2 dalam mesjid gitu

  18. just bryan berkata:

    Wah..aku kok baru denger y..
    Perasaan selama hampir satu setengah tahun di ITS gak ada kejadian seperti itu atau mungkin karena aku yang selalu sholat tepat waktu y..hehehe

    Allah sayang dengan hamba-hambanya..
    Mungkin Allah sedang mengingatkan kamu..
    Koreksi diri terlebih dahulu, jangan terburu-buru meluapkan emosi..

    Coment diatas bukan bermaksud menceramahi, hanya berpendapat..
    Peace ^^v..

  19. noinitial berkata:

    aku setuju kalo orang itu terlalu fanatik dan mudah emosi. hal yang kedua emang ga mencerminkan seorang muslim. Apalagi sampe mengkafirkan orang. Aku jadi kamu tak habisi tuh orang..

    Tapi tahukah kamu, aku kemarin juga sempat ngobrol2 dengan teman, dia lebih tahu islam timbangane aku..
    Kata dia, orang non-muslim emang ga boleh masuk masjid, kecuali dalam keadaan terhina..
    aku lupa hadisnya, tapi segera menyusul..
    orang non-muslim ga pernah mandi wajib kan? suci ga tuh? bukannya orang islam sndiri yang belum mandi wajib ga boleh masuk juga? rasialkah? I don’t think so..
    aturan itu berlaku untuk semua..

    terus kalo masjid itu udah ga nyaman? masak sih?emang sih aku juga pernah mengalami yang tidak menyenangkan. tapi hanya beberapa tuh. masih lebih banyak yang tetep bikin nyaman. yang biasanya bikin ga nyaman tuh pengurusnya yang sok… yang pengetahuannya kurang.. dan merasa paling benar. lagian aku jelas lebih banyak tahu tentang masjid dari kamu… pengalaman yang lebih tidak enak pernah kualami…
    sangat ga adil menurutku, jika kamu menulis di blogmu yang dibaca orang banyak di seluruh dunia tentang masjid yang tidak lagi nyaman hanya karena 2 kejadian… di tempat yang sama.. kalo kamu ga suka, kenapa ga hubungi mas Tanto dulu. dia kan pengurus di sana.
    Yang pasti aku “agak” ga terima dengan tulisanmu ini..
    Hakim, SMA 1 Sby

  20. p4ndu_454kura® berkata:

    @ Abeeayang™
    *ndusel-ndusel*

    @ Fairuz Azzahra
    Itulah, saya juga nggak setuju dengan caranya, meskipun niatnya bagus.

    @ grace

    Iya, baru nyadar kalau senada sama post-nya Kak Ma.😛

    @ Gyl

    Hmm.. berhati-hati dalam bersikap. Orang yang ekstrim pada suatu hal, berarti orang itu ekstrim terhadap hal yang berseberangan.

    Tidak tertutup pada ekstrimis, karena anti-ekstrimis itu berarti ekstrim terhadap pemahaman berseberangan dengan orang ekstrimis

    Dan bagaimana dengan orang-orang yang netral? Apakah jika mereka menentang suatu hal itu berarti mereka membela pihak lainnya?

    Di dunia ini, AFAIK, ada tiga unsur yang paling dominan: pro, kontra, dan netral.

    O ya, berarti saya ini mewakili JMMI ya ? Hahaha.. gak usah disensor lah. Kita semua tau kok.

    Ya… bagi orang-orang internal sih memang sudah tahu, tapi bagi orang lain? Makanya saya sensor.😉

    @ Dhani Aristyawan
    That’s it. But, everything, if it’s too much can cause troubles too.

    @ shei

    Mereka berdiskusi, bergosip, ngapa-ngapain di mesjid termasuk wi-fi an, okelah, selama tidak mengganggu gak papa, tapi mempertimbangkan ukuran MUSALA yang tidak terlalu besar, suara sekecil apapun juga bisa nyaring kemana-mana disekitar tempat itu.

    Hm… tapi WiFi di masjid saya dimatikan. Atau lebih tepatnya, tidak ada sinyal WiFi yang bisa menjangkau masjid ITS.

    mungkin sikap dari pengurus mesjid Pandu mengantisipasi kejadian sperti itu, karena tidak semua bisa mengerti arti ‘di mesjid tanpa bersuara dan menghargai orang yang sedang beribadah’

    Saya bukannya menolak maksud beliau. Saya hanya benci cara yang dia gunakan, tidak lebih.🙂

    @ aR_eRos
    Hm… mungkin. Tapi itu kan hasty generalization namanya.

    @ Muda Bentara
    Cuma masalah pengusiran umat lain yang di luar batas kewajaran, kok.😛

    @ dhanie-K
    Salam kenal juga… ^^

    @ galihyonk
    Bukannya orang sabar pantatnya lebar?😛
    *ditabok*

  21. p4ndu_454kura® berkata:

    @ saKuZo
    Makanya, sama kayak yang buat Rei, datang aja ke ITS langsung.

    @ tu2t
    Setuju.

    BTW, dengan bersikap begitu, mereka jadi agak terkesan… defensif. No offense, hanya saja, ini yang saya lihat dari pandangan mereka mengenai umat lain.

    @ Catshade
    Ohoho… perlakuan khusus?:mrgreen:

    @ ghani arasyid

    Tapi dalam suatu kejadian pasti ada hikmahnya, cobalah berpikir postif… jangan emosi dalam menyikapi sesuatu. Apalagi masjid adalah rumah Allah, maka seharusnya di tempat tersebut yang lebih diutamakan adalah untuk ibadah, bukan kegiatan lainnya.

    Hm… saya sih nggak emosi. Kayaknya yang emosi justru bapaknya, deh. Saya hanya sebal, padahal di masjid, tapi orang tersebut malah teriak-teriak seperti itu.

    Dia melarang orang lain untuk ramai, tapi dia sendiri malah teriak-teriak.😐

    Tapi dalam suatu kejadian pasti ada hikmahnya, cobalah berpikir postif… jangan emosi dalam menyikapi sesuatu. Apalagi masjid adalah rumah Allah, maka seharusnya di tempat tersebut yang lebih diutamakan adalah untuk ibadah, bukan kegiatan lainnya.

    Memang sih, tapi kalau pakai ngusir-usir segala ya saya nggak terlalu setuju. Toh mereka juga manusia, bukan hewan atau yang lainnya.

    @ tituchio
    Terima kasih infonya…🙂

    @ Strife Leonhart
    Diusir juga? Nyemm…😕

    @ just bryan
    Lha, kejadian pertama itu saya dengar dari jarak 10 meter, setelah baru saja berwudhu. Sedangkan kejadian yang saya alami sendiri itu saya sedang bersiap-siap sholat ketika datang orang yang seenaknya saja berteriak.

    @ noinitial

    Kata dia, orang non-muslim emang ga boleh masuk masjid, kecuali dalam keadaan terhina..

    Tapi… ini di serambi. S-E-R-A-M-B-I. Bukan ruang utamanya.

    orang non-muslim ga pernah mandi wajib kan? suci ga tuh? bukannya orang islam sndiri yang belum mandi wajib ga boleh masuk juga? rasialkah? I don’t think so..
    aturan itu berlaku untuk semua..

    Nah, itu, harusnya kita sadar kalau itu aturan universal.

    terus kalo masjid itu udah ga nyaman? masak sih?emang sih aku juga pernah mengalami yang tidak menyenangkan. tapi hanya beberapa tuh. masih lebih banyak yang tetep bikin nyaman. yang biasanya bikin ga nyaman tuh pengurusnya yang sok… yang pengetahuannya kurang.. dan merasa paling benar.

    Hei, saya sudah mengatakan di komentar sebelumnya: hanya pada saat itu saja. Jelas? Saya juga tidak menggeneralisasi bahwa semua masjid itu seperti itu, tidak.🙂

    lagian aku jelas lebih banyak tahu tentang masjid dari kamu… pengalaman yang lebih tidak enak pernah kualami…

    Hm? Kenapa tidak dibagi di sini pengalamannya? Pengalaman akan jauh lebih berharga kalau dibagi dengan orang lain, lho…:mrgreen:

    jika kamu menulis di blogmu yang dibaca orang banyak di seluruh dunia tentang masjid yang tidak lagi nyaman hanya karena 2 kejadian… di tempat yang sama.. kalo kamu ga suka, kenapa ga hubungi mas Tanto dulu. dia kan pengurus di sana.

    Karena ini:

    “Silence is worse; all truths that are kept silent becomes poisonous.”

    –Friedrich Wilhelm Nietzsche

    Lagipula, ini pengalaman saya. Dan justru dari sini saya dapat feedback bagus dari mentor saya saat kuliah.😉

  22. Novi~Atrix berkata:

    waduh…. harusnya mana boleh begitu😐 kalo saya pasti akan merasa muak juga kalo diperlakukan seperti itu

  23. yusahrizal berkata:

    Andaikan saia ada disana dan punya pengaruh besar maka saia akan teriak menjawab:

    “Mana yang non-muslim? Bawa dia, ikat erat tangan dan kakinya! Geletakan di mimbar masjid, sembelih! potong2 dan bagikan dagingnya buat sedekah. Sisakan tulangnya buat tusuk gigi saia.”

    Terlalu ekstrim ??? Bagimana kalau:

    “Mana yang non-muslim? Tangkap dan bawa ke kamar mandi! Suruh dia mandi wajib, kalau dia menolak kita mandikan dia!”

    Masih terlalu ekstrim ??? bagaimana kalau:

    Mana yang non-muslim? Ngapain dia ada di serambi? Tangkap dan bawa ke depan mimbar! Suruh dia duduk disana sepuasnya! Supaya dia jera dan merasakan bagaimana rasanya duduk di depan mimbar mesjid!”

  24. yusahrizal berkata:

    Kalau baca tulisan di:
    http://fitrahfitri.wordpress.com/2008/08/06/may-the-kuffaar-entering-the-masjid%E2%80%A6/#more-271

    bisa dipastikan anak yang diteriaki itu tidak akan masuk Islam, malah cukup beruntung jika seandainya dia tidak sampai benci sama agama Islam. Saya cukup bersyukur menjadi muslim karena Tauhid (baca: pemaham sendiri) bukan karena melihat tingkah laku umat muslim disekitar dan ikut-ikutan. Kalau terjadi sebaliknya, kemungkinan besar bukan cuma rasa muak yang akan saya rasakan.

    silahkan baca pengalaman anak ITB (hehehe.. bukan bermaksud ngadu ITB sama ITS nih):
    http://www.schoolofuniverse.com/2007/12/islamisasi-vs-kristenisasi/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s