Senioritas dan Etika Berkomentar

Pre-read: Bacalah post ini dengan kepala dingin. Ini bukan serangan, ini bukan ejekan, ini hanyalah ajakan untuk introspeksi diri. No fast-reading, think twice before you comment.

Seminggu ini, bagi yang tekun memperhatikan WordPress Indonesia, ada satu masalah yang sangat pelik di blogosphere ini. Lemon S. Sile, seorang mahasiswa baru perguruan-tinggi-yang-katanya-favorit, meluapkan pendapat dan uneg-unegnya dalam dua post-nya. Di salah satu post, dia sempat menyebutkan fakultas tempat dia kuliah.

Ceritanya, dia itu tidak diterima di fakultas favoritnya, dan malah nyasar di FSRD. Nah, dia mengungkapkan perasaan kesalnya itu dalam bentuk puisi. Puisinya seperti apa, silakan baca sendiri. Post itu kemudian mendapatkan beragam tanggapan, baik itu dari teman-temannya di blogosphere, maupun dari senior di FSRD.

Lemon mungkin ingin mengungkapkan perasaannya, tapi para senior itu mengartikan lain. Mereka merasa bahwa Lemon sedang menghina FSRD dan ITB. Berangkat dari misunderstanding itu, lahirlah komentar-komentar yang seperti ini:

48. gina DI 05

wah, saya liat karya kamu (yang ceritanya desain mega TECH, mau sok-sok interior gitu),
JELEK BANGET, GILAAAA!!!!!!!!!!!!!!!
Jangan masuk interior yak! Udah nggak punya bakat ngedesain interior, ruangannya GARING gitu, skill sketch up kamu BUSUK!!!!
Saya kaget kamu bisa masuk FSRD ITB!
Kamu malah nggak bersyukur, padahal kamu cuma beruntung lho, soalnya cuma 10000 tahun sekali ITB salah nerima mahasiswa, yang diterima malah orang retarded kayak gini!
PS : Liat wajah kamu di FS, eneg jadinya

69. fakboy

nanggepin komen NOMOR 62
p4ndu_454kura

yang nyerang Lemon
Bukan bermaksud ikut campur, tapi ayolah, jangan munafik. Apakah karena sudah senior, kalian melupakan perasaan kalian sendiri saat ada di posisi sebagai maba? Saya justru ragu kalau Anda tidak merasa marah dan kesal diperlakukan demikian.

—————–

KITA PERNAH DI POSISI LEMON BUSUK INI, KITA NGALAMIN, TAPI KITA MAU LEWATIN, KARENA KITA MASIH BERFIKIR LOGIS. BUKAN KAYAK LEMON SAMPAH INI, TAI LU MELOW LEMAH MEMBERI STATEMENT YG TERGESAGESA. BEGO IDIOT.

BWT PANDU, LU SAMA AJA MA LEMON. GA NGERTI MASALAHNYA. SHAME BOTH OF U MORRON.

BERAPA RATUS RIBU ANAK SR ITB YG SAKIT HATI GARA2 BACA TULISAN “FSRD!” (yg sekarang sok2an diproteksi) SI LEMON ASEM INI.
BERAPA JUTA ANAK ITB YG SAKIT HATI GARA2 KELUH KESAH DAN RASA GA BERSYUKUR LO INI
DAN BETAPA MENYESALNYA LO NANTI KETIKA LO BARU SADAR BAHWA BETAPA TOLOOOOOOOOOOLLLNYA LO.

anjing lo keluar dari kampus ini babi!!!

————-

What’s going on earth!😆
Ternyata kuliah di kampus favorit pun tidak menjamin mahasiswanya bisa berkomentar dengan baik di internet. Selain itu, banyak yang masih membawa-bawa masalah senioritas ke dalam blog tersebut, misalnya:

55. senior SR

baru kuliah, baru kena ospek aja udah protes ….belum tahu rasanya pad dunia kerja, dunia nyata elu elu abis kuliah mau ngapain ?? mau ribut kaya ginian melulu ??? malu2in aja …..

yang kaya gitu malah bikin lu makin kuat sebagai manusia bukan kaya yang punya blog ini …..kebanyakan dengerin EMO …dasar tolol …

😆 😆 😆

Memangnya kenapa kalau sudah kerja? Apakah terlihat lebih ‘wah’? Lebih super?

Apa orang yang sudah kerja itu berkomentar seperti ini di internet? Apakah orang yang terpelajar itu berbicara seperti ini di depan publik? Apakah tidak seharusnya Anda, sebagai senior, menunjukkan cara bicara yang sopan dan terpelajar?

Seniority is nothing but craps. We’re all human, no one better than other. Your comments represent your smartness. Be careful.

Tulisan terkait:
Source:
FSRD!
ITB

Blog lain dengan topik yang sama:
Perilaku Senior dan Alumni FSRD ITB di Internet: Sebuah Studi Kasus
Quote of the Day
FSRD di Blog
Kasus Blog Sang Junior

Tentang Reinhart

Don't wait. The time will never be just right.
Pos ini dipublikasikan di My Interest, My Thoughts dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

63 Balasan ke Senioritas dan Etika Berkomentar

  1. Kamasutra berkata:

    Ajing lo…………..

    Mikir dong………………..

  2. David berkata:

    saya tergelitik membaca tulisan anda.

    bukan maksud mengomentari, tapi saya hanya ingin sedikit menulis pengalaman saya seputar kuliah dan dunia kerja.

    mungkin senioritas akan sulit dihilangkan, namun kita bisa merubahnya menjadi sesuatu yang positif.
    senioritas di perkuliahan tergolong berat, namun itu semua bukan tanpa tujuan.

    dan saya mengerti, karena saya sudah pernah merasakan bagaimana dunia perkuliahan dan dunia kerja itu.

    dan apa yang senior kalian lakukan tidak sepenuhnya salah, karena memang dunia kerja lebih keras dan bagi yang tidak kuat mentalnya, mungkin akan sulit berkembang.

    bagi yang ingin mencari pekerjaan, dan pada akhirnya mempunyai atasan/ bos, bagaimana nanti menyikapinya. apakah kita siap melawan atasan kita ? dengan resiko yang tidak kecil (bisa saja kita kena pemecatan).

    dan dalam membuat karya untuk klien kita, maukah kita membuatnya asal-asalan ?bisa saja kita membuatnya asal-asalan, dan mungkin klien kita tidak suka dan tidak akan menggunakan jasa kita lagi.

    hidup memang tidak mudah, dan juga kita perlu bertahan dalam dunia ini. Karena kita tidak selamanya akan berada dalam perlindungan orang tua, dan juga kita tidak akan selamanya berada di bawah ketiak orang tua kita.
    ada saatnya kita harus beranjak dewasa, dan berani menghadapi kerasnya dunia.

  3. Sebenarnyaaa… bukan itu yang saya bahas di sini. Saya sedang membahas tingkah laku mereka di internet, bukan di kehidupan nyata.:mrgreen:

    Tapi terima kasih untuk komen Anda.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s