Trenggalek, Kota Berpagar Gunung (Travel Story #3)

Perhatian: Post ini mengandung beberapa foto yang mungkin bisa memperlambat akses Anda saat membukanya.

Dua hari setelah kunjungan kami ke Desa Satak tersebut, ayah datang sambil membawa kameranya. Dan sejak itu pula saya jadi punya hobi baru selama liburan. Yep. Roh fotografi pun akhirnya merasuki tubuh saya. Dan hasilnya saya sukses kerasukan.:mrgreen:

Selama liburan di Desa Pranggang, saya mengambil satu jepretan. Sebuah sunrise (meski tidak jelas nuansa sunrise-nya), yang diambil dari lotengnya Kipi. Itupun dengan waktu yang mepet karena harus segera pergi ke Tranggalek untuk menghadiri reuni keluarga Kartodimedjan pagi itu juga.

Yap, Akhirnya kami berangkat pada pukul 07.30. Tapi sebelum sampai di tempat tujuan, kami mengunjungi rumah kerabat yang terletak di pinggiran kota Kediri. Setelah berkunjung selama kurang lebih 20 menit, kami minta ijin untuk pergi karena perjalanan masih cukup jauh.

Oh ya. Selama di Kediri, kami melewati sebuah landmark, tepatnya di Perlimaan Gumul, yang bentuknya mengingatkan saya pada monumen di Paris.


Seperti ini, cuman lebih besar

Setelah sekitar 2 jam perjalanan, kami sampai juga di tempat reuni tersebut. Dan yang membuat saya kaget, ternyata kami merupakan rombongan terakhir yang sampai disana.😛

Yah, begitulah. Acara reuni berlangsung meriah dengan beberapa hiburan dari beberapa adik. Sekedar informasi, reuni keluarga ini berlangsung setiap tahun. Reuni itu selesai sekitar pukul 16.00. Lalu kami dan rombongan dari Pranggang dan Kediri berkunjung ke rumah keluarga Trenggalek lainnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi reuni.

Rumah ini merupakan peninggalan kakek buyut yang meninggal ketika saya masih SD, atau awal SMP? Entahlah, saya sudah tidak begitu ingat😕 . Rumah ini cukup terbuka, terdapat “lapangan rumput mini” dimana saya biasa main sepak bola disana. Selain itu, rumah ini juga dihiasi banyak bunga dan tanaman hias.

Rumah Trenggalek

Ini kalau dilihat dari dalam rumah

Selain itu, disana banyak kucing.:mrgreen:

kucing-1.jpg kucing-2.jpg

Saya sekeluarga tetap tinggal di sana untuk persiapan menuju Donorojo keesokan harinya. Well, ternyata hobi baru saya tidak berhenti pada bidang fotografi. Saya juga menemukan makanan baru yang cukup enak, yaitu lodho asli Trenggalek.

Lodho adalah makanan semacam kare. Akan tetapi, ayam yang digunakan adalah ayam kampung yang cukup muda. Jadi dagingnya cukup empuk dan rasanya pun berbeda dari ayam potong yang biasa kita makan. Konon katanya makanan ini cukup digemari oleh beberapa orang, terutama penggemar masakan pedas, karena rasanya yang cukup dahsyat.

Sebenarnya saya sendiri bukanlah seorang penggemar masakan pedas. Anti-pedas malah. Tapi entah kerasukan apa hingga saya sampai habis 2 piring dalam sekali makan.😆

Keesokan harinya, kami bersiap-siap berangkat ke Donorojo. Bangun jam setengah enam pagi, saya langsung mandi lalu makan lodho favorit saya. Nah, setelah berpamitan, kami pun melanjutkan liburan ke Donorojo.

*To Be Continued*

Sumber gambar:
Monumen dari sini.

Tentang Reinhart

Don't wait. The time will never be just right.
Pos ini dipublikasikan di Live Journal. Tandai permalink.

7 Balasan ke Trenggalek, Kota Berpagar Gunung (Travel Story #3)

  1. p4ndu_454kura berkata:

    No such Pertamax allowed.😎

  2. Nch berkata:

    Yups.. Trenggalek oe.. kakekku rumae jg disana, hijau bangeettt, kota bercincin gunung… jd pengen ksana deh..

  3. yudi berkata:

    trenggalek…trenggalek. banyak kenangan ak di kota itu. meski ak baru sekali di kota itu itupun cuma bentar cuma 4 jam ak disana.a jadi pengen kesana lagi, kapan y…
    o ya.. buat Devi Indriati. tiga kata untukmu..

    ………I MISS U………

  4. sulton berkata:

    Selamat datang ditrenggalek.

  5. johni l setyawan berkata:

    Daku sangat mencintai trenggalek khususnya desa pucanganak,kec.tugu..dsana kulahir dan tinggal hingga remaja…

  6. Maylita Hasyim berkata:

    Aku ini anak trenggalek..
    Meskipun Trenggalek dikelilingi gunung..
    Namun, cita-citaQ takkan terbendung..
    Hidup Trenggalek, Hidup Durenan…

  7. mashari berkata:

    meski ak lair di surabaya, tanah yang ku injak pertama kali adalah tgalek. hingga umur 16 th ku tinggal disana, masa kecil yang penuh kenangan…..tak terlupa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s