Demonstrasi. Kata ini begitu familiar di telinga kita. Setiap hari, di berbagai tempat, kita bisa mendengar atau melihat berita demonstrasi dalam berita pagi yang disiarkan oleh berbagai saluran TV. Mungkin kita tidak hanya melihat, mungkin kita juga ikut ambil bagian dalam demonstrasi tersebut. Atau kalau mau lebih jauh, kita bisa saja sebagai orang yang mendesain demonstrasi tersebut.
Sebenarnya, demonstrasi bukanlah sebuah hal yang terlarang, karena ini merupakan sesuatu yang wajar di berbagai negara. Demonstrasi sebenarnya merupakan sebuah sarana untuk menyampaikan pendapat, kritikan, dan aspirasi dari rakyat untuk pemerintah negara tersebut. Namun sayangnya, demonstrasi sudah disalahgunakan di berbagai tempat.
Paradigma yang ada di masyarakat saat ini adalah apabila ada demonstrasi pasti mengakibatkan kemacetan dan bukan tidak mungkin berakhir rusuh. Demonstrasi pun hanya menjadi ajang adu otot antara orang-orang yang katanya pro kelompok A dengan katanya pro kelompok B. Tentunya masih segar dalam ingatan kita ketika seminggu yang lalu sebuah demonstrasi yang menuntut terbentuknya provinsi Tapanuli Utara mengakibatkan tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara.
Apabila kita melihat lebih ke belakang, beberapa bulan yang lalu juga sempat terjadi demo yang berakhir dengan kerusuhan antara salah satu partai politik dengan Front Pembela Islam. Komentar-komentar pedas ditambah dengan cuaca saat itu yang juga sedang panas membuat duel tak terelakkan lagi. Sangat disayangkan sebenarnya, bahwa demonstrasi yang seharusnya dilakukan dengan cara damai berakhir seperti itu. Lebih disayangkan lagi duel tersebut ternyata mengambil tempat di salah satu landmark Indonesia, Monumen Nasional.
Di sisi lain, demonstrasi dimanfaatkan oleh beberapa oknum dengan tujuan tertentu. Ketika pemerintah pada tahun 2005 memutuskan untuk mengurangi subsidi BBM yang mana otomatis mengakibatkan naiknya harga BBM, banyak demonstrasi terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Inti dari demonstrasi itu hampir seragam: kenaikan harga BBM akan menyengsarakan masyarakat menengah ke bawah. Hal ini kemungkinan digunakan oleh lawan politik SBY untuk berusaha menjatuhkannya dari tampuk kepresidenan. Akan tetapi, perlu ditambahkan juga bahwa pengurangan subsidi tersebut hanya diberlakukan untuk masyarakat menengah ke atas. Untuk menengah ke bawah, masih ada subsidi. Selain itu, kenaikan harga minyak tanah seperti yang ditakutkan ternyata tidak terjadi.
Demonstrasi juga digunakan untuk mencari kekuasaan. Kita ambil contoh saja demonstrasi pembentukan Tapanuli Utara. Demonstrasi tersebut, apabila berhasil, perlu melakukan pemilihan umum untuk memilih gubernur Tapanuli Utara. Calon gubernur yang akan muncul nantinya bukan tidak mungkin berasal dari salah satu penggagas demonstrasi tersebut. Sementara itu, dengan terbentuknya provinsi baru, kesejahteraan rakyat yang diharapkan juga belum tentu muncul. Hal ini karena berkurangnya wilayah provinsi berarti sumber daya yang dihasilkan juga sedikit, dan berimbas kepada minimnya pemasukan yang masuk ke kas.
Demonstrasi memang merupakan sarana yang efektif dalam menyampaikan seuatu pendapat. Saya pribadi mengakui hal tersebut. Tetapi, ketika demonstrasi sudah kehilangan fungsi utamanya, maka demonstrasi tak ubahnya seperti seekor kuda, yang ditunggangi demi kepentingan pribadi atau kelompok. Namun, ini hanyalah pendapat seseorang yang cukup muak dengan demonstrasi yang berujung rusuh. Entah kenapa dia merasa negara ini tidak akan maju kalau masyarakatnya belum bisa mengendalikan diri.









demonstrasi boleh, asal jangan smpai jadi anarki.
Dan demo juga jangan cuma karena ikut2an, tapi sebaiknya mengerti tujuan dari demo itu sendiri.. ^^
apakah negara yg demokrasinya baik –> sering demonstrasi??
kayanya ngga deh
Mirip2 dengan tulisan saya yang kemarin
Mengenai permasalahan minyak, seharusnya subsidi dicabut untuk seluruh golongan. Minyak sudah menipis bung
Saya khawatir, pengikut demonstrasi itu tidak mengerti apa yang mereka tuntut. Saya khawatir pengikut demonstrasi itu terdiri dari pengangguran yang dibayar dengan jumlah tertentu. Saya khawatir demonstrasi itu adalah akibat banyaknya pengangguran.
bagus…bagus…bagus….
Semalem waktu nonton sebuah acara di metro TV dikatakan seorang mahasiswa bahwa Demonstrasi merupakan bagian dari Demokrasi… Benar nggak sih…???
Demo bayaran semakin marak… Waspadalah… waspadalah!
Mending bikin demonstrasi masak, habis itu dibagiken … kan mareki dan bermanfaat
Salam hangat
Ben
http://benedikawidyatmoko.wordpress.com
http://benagewe.blogdetik.com
Negara yang demokrasinya sudah baik membuat warga negaranya hampir tidak pernah merasa perlu untuk berdemonstrasi karena mereka bisa langsung menyampaikan keluhan mereka ke wakil rakyat atau senator, biasanya lewat surat atau e-mail; kalau ada cukup banyak orang yang menyurati, bisa dipastikan masalah itu bakal diangkat ke dalam sidang. Lha di Indonesia…?
Sepakat…
Demokrasi di indonesia di salah artikan dengan sedikit-sedikit demo..
Tapi tidak semuanya, terkadang memang diperlukan aksi yang salah satunya berbentuk demo(Pengertian dari mahasiswa) untuk menyalurkan aspirasi, mengkritik kebijakan yang merugikan, dan mengangkat isu dan yang pasti tidak berbentuk anarkio..
sebetulnya demonstrasi itu gpp. Tapi kalo sudah anarki.. Jangan deh.
Demonstrasi adalah salah satu wujud dari mazhab “pokoknya™” yang tumbuh subur di Indonesia.
“Pokoknya™ kalo aspirasi kami ini tidak segera direspon, kami akan datang lagi dengan massa yang lebih besar!!!”
demo sih setuju, buktinya kahn soeharto pernah ditumbangkan oleh DEMO. MAsalahnya adalah, Mahasiswa (bahkan masyarakat) perlu diberi pendidikan sebelum demonstrasi, supaya tidak anarkis ^^
tersindir aku…
Contoh yang paling menarik tentu saja Peristiwa Malari tahun 1974.
Sila diterawang. Tapi jangan di Wikipedia.
@ grace
Masalahnya, demontsrasi sekarang banyak yang pakai orang sewaan. Bahkan di salah satu koran saya sempat membaca ada organisasi khusus yang menyediakan demonstran
@ Arm
Kalau demokrasinya baik sih sepertinya jarang demonstrasi. Mereka melakukan demo hanya kalau merasa ada yang salah dengan kebijakan pemerintah.
Selebihnya sudah dijawab oleh mas Catshade
@ Adriano Minami
Kalau dicabut untuk semua golongan, rakyat bisa berontak, bung.
@ Singal, dnial
Tapi demonstrasi sepertinya juga membuka lapangan kerja baru: sebagai demonstran.
@ themnet
Terima kasih…
@ mamas86
Demonstrasi memang bagian dari demokrasi, tapi demokrasi tidak harus selalu demonstrasi.
@ Catshade
Di Indonesia? Pakai E-mail? Sepertinya masih lama.
@ Just Bryan
@ Rian Xavier
Tapi denger-denger beberapa demonstrasi ada yang menyewa preman juga.
@ jensen99
Ah… tipikal Indonesia banget™, itu…
@ shei
Diberi penyuluhan, ya? Hm… boleh juga…
@ Ken Arok
*gugling*
wah,, iki pandu 2008 y..??? sipp2x
bangga duwe junior kayak kamu,, keep blogging !!
Aku juga mau nulis tentang demonstrasi yang di UI disebut aksi…
Btw, Blogku ganti ndu…
a-initial.co.cc
Dan terima kasih tugasnya..Tu tugas emang dibuat tempo dulu ya?
@ entung
Wah, mas glen. Selamat datang di rumah saya, mas…
@ Adli
Silakan nulis. Bukannya mahasiswa itu stereotipnya dekat dengan demo?
Masalahnya, negara kita memakai ideolog demokrasi. menurut gw, demokrasi adlh sistem dimana suara terbanyaklah yg menang, mau itu benar ato salah.. bener g?? kita tau klo manusia pd dasarnya pasti milih kebenaran agar adil, tapi gmn klo kekuasaan, gold, glory yg nguasain pikiran??? tentu pasti milih kepentingan sendiri.. intinya klo sndri (katakanlah sedikit) org yg “sudah terbuka matanya” dan ingin melakukan perubahan buat kebenaran, pasti akan disingkirkan. contohnya kasus munir.
kedua (tambahan), pasar indonesia yg bebas aktif.
-Menjadikan banyaknya penanam modal asing, yg mengakibatkan “cita-cita org awam indonesia asal bekerja”(ato bahasa mereka: jd buruh pabrik), g ada inovasi mengembangkan sesuatu ato research produk biar jd pengusaha.
-Industri dalam negeri menjadi melemah. Padahal SDM bisa d recycle.
-Indonesia MASIH dianggap negara dunia ketiga.
Gw sih masi menjunjung idealism gw :
Mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. menolak adanya pembatasan pribadi, menjunjung Hak asasi manusia, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Anti-sekuralisme. secara fisik memobilisasi sebagian besar penduduk dalam perjuangan demi bersama, konsep tentang Demokrasi Baru, dan industri-industri yang tidak tergantung dengan dunia luar. pengorganisasin yang cermat atas kekuatan militer dan ekonomi yang besar adalah perlu untuk mempertahankan wilayah revolusi dari ancaman luar, sementara sentralisasi menjaga agar korupsi dapat terus diawasi, di tengah-tengah kontrol yang kuat, dan kadang-kadang perubahan, melalui kaum revolusioner di ranah seni dan ilmu pengetahuan.
RSCV
Just dropping by.Btw, you website have great content!
______________________________
Professionally Written And Inspirational Wedding Speeches And Toasts…
demokrasi skrg udah jadi WWF ya
kesalahan yang sering terjadi adalah demo dijadikan ajang gila-gila’an + anarki. Turut prihatin sama demo yang ada sekarang ini.
Apdet apdet… *kemaki*
aduh maaaaaaaaasssssss….
tulisane abot-abot @_@
hho… gapapa wes. yang penting ngeblog
kalo gitu, gimana dengan demokrasi yah? sama saja mungkin nasibnya…
Jadi inget kata2 pak Romi Satria Wahono:
Kata2 bebaskan rakyak dari kebodohan akan terdengar menggelikan jika diteriakkan mahasiswa bodoh.
Kata2 berantas korupsi tidak pantas diteriakkan oleh mahasiswa yang suka mengkorupsi jam kuliah.
Alangkah baiknya kita berfikir pada dirisendiri dulu, dan dimualai dari yang kecil. Klo langsung hit yang besar ngak akan lancar klo segmen yang kecil rapuh