Mengapa Golput?

Pemilihan kepala daerah maupun kepala negara di Indonesia selalu diwarnai dengan tingkat golput yang cukup tinggi. Ada yang bilang orang-orang yang golput itu tidak ikut memilih calon pemimpinnya karena merasa sudah tidak percaya kepada pemerintah. Ada juga yang mengatakan mereka tidak ikut mencoblos karena kesejahteraan mereka tidak akan naik meskipun pemimpin berganti.

Lalu maksudnya apa?

Apakah dengan tidak memilih itu berarti mereka sudah memperjuangkan masa depan mereka?

Ada golput atau tidak ada golput, pemimpin tetap harus dipilih. Tetap harus ada. Jika pemimpin yang terpilih nantinya memperjuangkan nasib rakyat kecil, mampu memperbaiki nasib mereka, tidakkah orang-orang yang memilih bersikap golput merasa malu karena dulu saat pemilu terlanjur tidak percaya? Dan andai pemimpin yang terpilih tidak mampu memperbaiki nasib rakyat kecil, apakah mereka berhak seenaknya mengoceh dan menuntut pertanggungjawaban, padahal mereka sendiri tidak menggunakan hak pilih yang merupakan hal “wajib” dalam pemilihan umum? :?

Oke, dalam post ini saya mengambil contoh Pilgub Jawa Timur tanggal 23 Juli 2008 yang lalu. Menurut data KPU, dalam Pilgub Jatim putaran pertama itu sekitar 28% pemilih tidak menyumbangkan suaranya, alias golput. Sudah lebih baik daripada Jawa Tengah, yang menurut informasi Bung Ardianto, sekitar 43 % pemilih tidak menggunakan hak pilihnya. Tapi, tetap saja hal itu merupakan “aib” bagi Indonesia yang sedang berjuang untuk mewujudkan pemerintahan yang demokratis.

Mereka memilih untuk menjadi golput konon karena:

  1. Kuliah/kerja di luar wilayah Jawa Timur
  2. Tidak mengetahui jadwal pemilihan
  3. Bingung memilih siapa
  4. Tidak percaya dengan calon yang ada
  5. Tidak mendapatkan surat panggilan

Coba mari kita bahas satu-persatu:

1. Kuliah/Kerja di Luar Wilayah Jawa Timur

Poin ini bisa kita maklumi. Mereka sudah terikat dengan perguruan tinggi maupun tempat kerja mereka. Bagi mahasiswa, pasti merasa berat jika harus meninggalkan kampus mereka, terutama yang sudah menginjak tahun akhir. Mereka yang sudah kerja pun terikat dengan tempat kerja mereka, pimpinan mereka, tanggung jawab mereka, dan tidak bisa semudah itu mendapatkan ijin pulang kampung untuk mengikuti pilkada.
Apalagi kalau tinggalnya jauh di luar wilayah Jawa Timur, maka “ongkos mudik” akan menimbulkan beban tersendiri.

Permasalahan ini bisa diatasi jika kedua belah pihak (mahasiswa/pekerja dan rektor/pimpinan) paham akan pentingnya pemilihan umum. Sayangnya, masih sedikit yang seperti itu.

2. Tidak Mengetahui Jadwal Pemilihan

Mungkin ini lebih disebabkan kurangnya peranan media atau KPPS dalam memberikan informasi. Masyarakat kurang mendapatkan sosialisasi kapan jadwal mereka memilih pemimpin mereka. Jujur, saya sendiri juga kurang tahu bahwa pilkada dilakukan tanggal 23 Juli 2008. Saya baru mengetahui hal itu setelah melihat debat antarcalon yang ditayangkan di beberapa stasiun TV. :P

Kalau kita peduli dengan masa depan Jawa Timur pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, sebenarnya kita bisa proaktif bertanya kepada orang lain tentang kapan dilaksanakannya pemilihan tadi. Masalahnya, sebagian orang Indonesia termasuk orang-orang yang ingin diberi, bukan memberi. Bagi mereka, meminta, apapun bentuknya, merupakan hal yang “tabu”. Dalam permasalahan ini, yang harus dihilangkan adalah rasa malu untuk bertanya.

3. Bingung Memilih Siapa

Hal ini disebabkan banyak pemilih yang belum mengenal pemimpinnya, selain wajah-wajah yang terpampang di baliho-baliho kampanye. Baliho kampanye, juga iklan di media massa dan televisi, kebanyakan tidak lebih yang berisi kata-kata: “Pokoknya coblos saya!” Tidak banyak memperkenalkan latar belakang calon, terlebih lagi nyaris tidak ada calon yang memaparkan program-programnya dengan jelas.

Padahal kalau mau mencermati, di TPS tersedia poster yang berisi visi, misi, dan janji para calon gubernur. Itu memberikan sedikit gambaran kepada masyarakat tentang apa yang akan dilakukan para calon jika mereka memenangkan pemilihan ini.

4. Tidak Adanya Kepercayaan Terhadap Calon Pemimpin

Ini persoalan yang paling sulit: kepercayaan. Sebagian masyarakat Indonesia saat ini dihinggapi penyakit yang sulit disembuhkan. Penyakit itu bernama ketidakpercayaan terhadap pemimpin. Kalau seperti ini terus, bagaimana Indonesia bisa maju? Bagaimana pemimpin bisa memimpin rakyatnya kalau rakyat tidak menaruh kepercayaan? Bagaimana pemimpin bisa melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka kalau rakyat tidak mau ikut berpartisipasi dalam pembangunan, yang diakibatkan oleh ketidakpercayaan? Para pemimpin juga manusia biasa, bukan manusia super yang bisa menyelesaikan segalanya dalam sekejap mata. ;)

Dalam permasalahan ini, yang harus dihilangkan adalah rasa tidak percaya. Jika kita menganggap calon-calon yang ada tidak memenuhi kriteria pemimpin yang baik, tidak ada yang ideal/sempurna, marilah kita memilih calon pemimpin yang paling sedikit kekurangannya. Dengan demikian, meskipun kurang puas, kita sudah ikut memilih pemimpin kita. Pemimpin yang akan menentukan warna pembangunan di negara kita.

5. Tidak Mendapatkan Surat Panggilan

Permasalahan ini mungkin disebabkan data yang dikumpulkan kurang valid dan tidak diolah terlebih dahulu. Beberapa pemilih mengaku belum mendapatkan surat panggilan memilih hingga hari pemilihan, padahal mereka sudah terdaftar sebagai warga Jawa Timur. Masalah ini merupakan masalah yang sangat serius karena menyangkut hak warga negara untuk mengikuti pemilu.

Penyelesaian kasus ini sebenarnya mudah. Cukup membawa KTP yang merupakan identitas kita dan dokumen-dokumen pelengkap seperti Kartu Susunan Keluarga (KSK) serta dokumen yang menyatakan bahwa kita termasuk warga provinsi tersebut. Masalahnya, banyak yang tidak tahu kalau masalah ini bisa diselesaikan dengan cara di atas. Atau tahu tapi tidak lengkap. Mereka datang ke TPS dengan membawa KTP, tapi tidak membawa KSK. Kalau pemilih tinggal di kota besar seperti Surabaya mungkin bukan masalah, dimana TPS hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari rumah. Tinggal pulang sebentar ambil KSK, beres deh. Lha yang tinggal di pedesaan? Jarak TPS bisa lebih dari 1 Km dari rumah.

Hmm…. susah juga ternyata. :?

*****

Saya harap jumlah golput pada Pilgub Jawa Timur putaran kedua dan Pilpres 2009 bisa berkurang hingga hanya mencapai 5%, bahkan kalau bisa 0%. Terlalu muluk? Mungkin. Tetapi bukan harapan yang mustahil kalau seluruh elemen bangsa ini sadar akan pentingnya partisipasi mereka.

Indonesia hingga saat ini mendapatkan cap-cap yang jelek dari masyarakat dunia. Cukuplah kita dihina seperti itu. Masyarakat Indonesia hanya bisa diam, tidak mengambil tindakan nyata. Orang yang golput pun demikian: tidak memilih, diam, pasif. Mereka hanya berharap, harapan yang tidak disertai dengan perbuatan. Kalau begini terus, kapan Indonesia bisa maju???

Orang berani akan menggunakan hak pilihnya. Orang yang bertanggung jawab akan menggunakan hak pilihnya. Sekarang, apakah Anda orang yang berani? Apakah Anda orang yang bertanggung jawab? Saya cinta negara ini. Saya cinta Indonesia dan saya ingin negara ini semakin maju. Jadi, saya pikir alangkah baiknya jika saya dapat mengajak Anda semua untuk memulainya dari hal yang kecil, hal kecil yang memiliki arti besar: tidak golput. :D

Source:

Image taken from BBC News


TPC Semarak Agustusan

About these ads

Tentang Reinhart

Don't wait. The time will never be just right.
Tulisan ini dipublikasikan di My Galleries, My Thoughts dan tag , , , . Tandai permalink.

40 Balasan ke Mengapa Golput?

  1. p4ndu_454kura® berkata:

    @ aditcenter
    Nah, itu dia. Masyarakat seolah lepas tangan dengan dalih dia tidak memilih pemimpin itu saat pemilu. Padahal mereka sendiri juga nggak berusaha memperbaiki nasibnya. :P
    @ rei_psycho d’ st★r。
    Politik? Ah, saya nggak tertarik ama hal-hal itu saat ini.
    @ Xaliber von Reginhild
    Di satu sisi, saya sebenarnya juga kecewa dengan sebagian pemimpin saat ini yang hanya memperhatikan diri sendiri daripada orang lain.

    Tapi saya juga paham bahwa dengan tidak memilih, artinya saya ikut membantu proses runtuhnya negara ini. Saya yakin masih banyak pemimpin yang baik, hanya saat ini belum terekspos dan belum dikenal secara luas. Lihat saja persentasi kepopuleran capres yang mengajukan diri, masih didominasi muka-muka lama.
    @ aziz
    Makasih, ziz…
    @ Catshade
    Dan kalau si ‘eksekutor’ itu tetap diam, dia membuang kesempatan menyelamatkan orang yang duduk di kursi listrik, yang berarti dia ikut memberikan teror kepada si ‘terpidana’.

    Those who fear to fail never succeed, right? ;)

  2. K. geddoe berkata:

    Dan kalau si ‘eksekutor’ itu tetap diam, dia membuang kesempatan menyelamatkan orang yang duduk di kursi listrik, yang berarti dia ikut memberikan teror kepada si ‘terpidana’.

    Pertama, saya kok malah yakin si terpidana lebih memilih supaya si “eksekutor” tidak bertindak sembrono. :D

    Kedua, jangan jadi memperdebatkan analoginya, sebab analogi hanya proyeksi dari kasus sebenarnya.

    Ketiga, saya bingung dengan sikap anti-golput yang ada. Golput karena malas atau sok anarkis mungkin tidak terpuji, tapi kalau memang tidak tahu mana yang mesti dipilih, golput adalah suatu kejujuran. Ingat, pemilu jangan sampai jadi perjudian; memilih calon jangan jadi seperti memilih nomor taruhan. :| Jadi “kalau tidak tahu, pilih saja salah satu” itu menurut saya luar biasa sekali, sebab meng-encourage perjudian nasib bangsa.

  3. fantasyforever berkata:

    Gw setuju sama yang nomer 4 nih. Gw kagak milih soalnya juga kenak itu. Gimana yah.. Bukannya ga maw milih. tapi dari dulu sampe sekarang belum ada bukti fakta kalo ganti pemimpin bisa naik kesejahteraan rakyat itu (jadi pusing sendiri kalo dipikiri :mrgreen: ).

  4. Dwi of Today berkata:

    Menarik sekali artikel anda tentang Golput.. Kalo boleh tau mas.. saya boleh tau gak resensinya artikel Golput ini dari mana..? apakah ada tesk book yang mengulas lebih jauh ttg golput itu sendiri.. Kalo ada fenomenanya diluar negri ada gak yacch..?

    Ditunggu balasannya ke email saya.. Terima Kasih

  5. p4ndu_454kura® berkata:

    @ K. geddoe
    Pertama; saya jadi ingat si kucing. Mungkin ‘eksekutor’ pertama tidak menekan tombol apapun, begitu juga dengan yang kedua. Tapi entah orang keberapa yang nantinya akan menekannya. Hingga ada yang menekan tombol itu, si ‘terpidana’ berada dalam keadaan hidup ATAU mati.


    Meskipun cara ini termasuk perjudian nasib bangsa.

    Kedua; saya hanya berusaha mencari celah di komentarnya mas Catshade. Dan, saya rasa, justru itu yang sering kita kampanyekan, bukan? Shot the message, not the messenger. Tapi nggak tahu juga kalau bukan itu yang kopral maksud. :P

    Dan lagi, saya menganggap sang ‘terpidana’ adalah negara ini dan sang ‘eksekutor’ adalah si pemilih. Semoga itu yang dimaksud mas Catshade.

    Ketiga; mungkin agak sama dengan jawaban pertama. Berjudi dengan nasib hingga saat yang tidak ditentukan. Jika pilihan kita tepat, kita bisa menyelamatkan negara ini. Tapi bila pilihan kita salah, maka kita ‘membunuh’ negara ini.

    Maka dari itu, saya sarankan cermati baik-baik calon pemimpin yang tersedia. Sudah banyak kok program di TV yang mengulas tentang para calon presiden maupun gubernur mulai dari latar belakang, pendidikan, prestasi, visi, misi, dan kontrak politiknya. :)
    @ fantasyforever
    Bagaimana dengan era Habibie? Saat dia jadi presiden kesejahteraan rakyat naik, tuh. Walaupun nggak bisa dibilang drastis.
    @ Dwi of Today
    Saya nggak ngambil resensi dari manapun. Ini murni pemikiran dan keprihatinan saya atas maraknya kasus golput di Indonesia. Textbook-nya sendiri, saya yakin, banyak yang beredar di internet. Cukup ketikkan apa yang kita mau pada mesin pencari, misal dengan kata kunci definisi golput, penyebab golput, dan lain-lain.

    Fenomena golput, menurut pendapat saya, hampir semua negara mengalaminya. Jadi bukan hanya Indonesia yang mengalaminya.

  6. Golputer berkata:

    Alasan saya kenapa Golput :
    1. Golput adalah sebuah pilihan, memilih untuk tidak memilih itu merupakan pilihan yang sah, dan itu juga salah satu sikap :)
    Pilihan untuk hancur ? Nyoblos ato Golput itu berpeluang sama dalam kehancuran negeri ini.

    2. Saya tidak melihat ada pilihan yang lebih bagus dari pada Golput, bagaimana jika pilihan yang saya lihat itu semuanya adalah salah.

    3. Golput juga merupakan sebuah suara, suara agar para pemimpin itu sadar bahwa hanya segelintir orang yang memilih dia, dan dia juga bertanggung jawab atas semua rakyat baik yang memilih atau tidak

    Penyambung lidah rakyat itu seharusnya tidak pernah mencemaskan rakyatnya akan memilih dia atau tidak, karena dia masih bisa memberikan sumbangsihnya terhadap negeri ini tanpa harus dipilih rakyatnya, rakyat kita tidak terlalu bodoh untuk melihat pemimpin yang demikian, tapi sayang sampai saat ini saya belum melihatnya.

    Mengutip ucapan salah satu mantan yang pernah terpililh jadi pemimpin negara ini:”Orang golput tidak boleh menjadi WNI.

    hahahaha…

    Apakah mereka tidak punya cermin, hingga tidak bisa berkaca kenapa bisa golput, bukankah rakyat Indonesia ini sudah memberikan seluruh kepercayaannya berkali-kali kepada mereka-mereka ini. seharusnya para elit politik, pemimpin partai dan pejabat mawas diri bahwa ternyata kepercayaan masyarakat kepada mereka semakin menurun. Ingat tidak cuma satu kali rakyat ini dikhianati para pemimpin mereka. Jadi jangan salahkann para rakyat yang golput dan menganggap bahwa Golput itu tidak berani, tidak mempunyai sikap dsb :)

  7. Shinsi berkata:

    Benar skali ap yang disampaikan oleh sdr Golputer, seseorang menjadi golput bukanlah berarti Golput itu tidak berani, tidak punya sikap dan hal2 lain yang sampai2 berani dikatakan “Orang golput tidak boleh menjadi WNI.”

    Justru sebaliknya, orang yang tidak bisa menerima Golput di negaranya lah yang belum mampu bernegara. Golput sangatlah penting untuk menjadi indikator keberhasilan sebuah negara, semakin banyak Golput seharusnya pemerintah sadar bahwa ada yang kurang dengan pelaksanaan pemerintahan mereka. Jika mau mengurangi golput yah jangan dengan paksaan argumentasi atau persuasi tetapi dengan bukti nyata.

    Tetapi bkan berarti kita harus mendukung Golput dan tidak juga kita boleh memaksa orang untuk tidak Golput, karena kedua hal itu sama buruknya. Biarlah Golput itu memilih sndiri pilihannya dengan pertimbangannya sndiri. Dengan begitu, Golput tetaplah bisa menjadi indikator keberhasilan negara secara valid.

  8. Ping balik: ??Golput=golongan putih=netral=pertempuran hati « Kenapa WHY selalu ALWAYS, tetapi BUT tak pernah NEVER??

  9. redaksi berkata:

    PESAN DARI SURGA BUAT PARA KORUPTOR

    Engkau menuliskan senandung nyanyianmu di atas wajah suci kaummu; lalu engkau membiusku dan perlahan-lahan merampas hartaku… seperti itulah yang dilakukan para koruptor…

    Demikianlah, negara ku kini menduduki peringakat 3 negara terkorup se-Asia Tenggara, dan aku lemas, lunglai tak berdaya di tengah melimpahnya kekayaan kita. Kalbuku mengerang kesakitan, ku meraung kepedihan menahan luka gores sayatan yang menggores batin ini oleh perselingkuhan orang kepercayaan.

    Dulu dalam fahamku, kau ku pilih karena kau orang yang tepat di posisimu, kau pengelola managemen dasyat dari segala kehebatan negeriku. Maka itu ku serahkan tanpa syarat semua kepadamu. Dengan maksud kita bersama-sama menyeberangi tepian bahagia menjadi bangsa bermartabat.

    Tapi kini, rencana janjimu adalah angin lalu, semua ucapan manis mu kau buang di ngarai hampa. Ketahuilah semua kepalsuan yang kau ucapkan, aku tak percaya lagi!! Aku tidak ingin bersama mu di pemilu 2009 mendatang.

    Semalam dua sebelum anggota KPK datang menjemput, aku mempersiapkan sepatah dua patah untuk kusampaikan kepadamu, namun engakau persiapan hanyalah persiapan, aku tak bisa melepas siratan hati karena penjagaan ketat garda polisi.

    Sekarang di antara persidangan hati sekalian, aku katakan kepadamu ” aku akan boikot pemilu tgl 5 april 2009, kami akan golput!!!” agar kau merasakan seperti apa luka yang kau berikan.

    sumber : http://www.asyiknyaduniakita.blogspot.com

  10. donhernand berkata:

    gini aj y…

    Memilih itu khan HAK bukan Kewajiban. So, kalo hak-nya gak dipake juga gak salah. Kita bisa mengajak bukan men-judge itu benar atau salah.

    Saya juga bakal golput, namun bukan berarti saya tidak mau memilih. Hanya saja yang menjadi pilihan saya tidak ikut dalam daftar. Toh, harapan terletak pada sang calon untuk memperbaiki wilayah yang dipimpinnya. Harapan tidak terpenuhi, masih ada tangan sendiri untuk berkarya.

    Nah, melalui Hak tidak tercapai, khan masih ada kewajiban, lebih tepatnya kewajiban moral/hati nurani. Kewajibannya itu tentunya akan dipertanggungjawabkan. Misalnya, membangun daerah masing2 dengan profesi masing2 tentunya. Bisa dengan membangun perpustakaan umum gratis, sekolah gratis, dan lain sebagainya. Gak ada duit? Ya dicari dunk, masak mengharapkan orang lain.

    Gitu aja kok repot… Mari memulai dengan karya tangan sendiri, jangan berharap orang lain yang akan memenuhi harapan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s