Kalian… MEMALUKAN

Kondisi sepak bola di Indonesia benar-benar terpuruk. Hal ini dimulai dengan status Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, yang sedang berstatus “Tahanan Mertua” dan tidak mau dicopot dari jabatannya. Hal ini memicu dilaksanakannya Munaslub yang dihadiri oleh klub-klub sepak bola seluruh Indonesia dan diharapkan bisa melengserkan Nurdin Halid.

Beberapa bulan berlalu, tibalah saatnya menggelar babak 8 besar Liga Indonesia. Delapan klub Divisi Utama dibagi menjadi dua grup. Grup A, yang rencananya digelar di Kediri, dihuni oleh Sriwijaya FC, PSMS Medan, Persiwa Wamena, dan Arema Malang. Sedangkan grup B, yang berada di Solo, ditempati oleh Persipura Jayapura, Persija Jakarta, Persik Kediri, dan Deltras Sidoarjo.

Klub-klub yang berada di grup A melakukan pertandingan lebih dulu sesuai jadwal. Pertandingan pertama yang mempertemukan Sriwijaya FC dan PSMS berlangsung aman dan terkendali. Tiba saatnya pertandingan kedua antara Arema dan Persiwa. Pertandingan yang seharusnya bisa menjadi duel yang menarik, harus ternoda oleh ulah suporter yang tak bertanggung jawab.

Pertandingan itu terpaksa dihentikan pada menit ke-71 karena banyak suporter liar yang masuk. Akibatnya Aremania, suporter Arema yang sangat menghormati fair play, ikut terprovokasi. Suporter pun membakar gawang serta beberapa fasilitas, dan merubah Stadion Brawijaya menjadi sebuah mangkok api. Pemkot Kediri melansir kerugian akibat insiden ini mencapai miliaran rupiah, nilai yang cukup untuk memberi makan orang miskin dan anak-anak terlantar di seluruh Kediri. Sebagai akibat dari tindakan suporter tadi, Aremania dihukum tidak boleh menonton seluruh pertandingan Arema selama 3 tahun. Sebuah vonis yang sama persis dengan apa yang diterima oleh Bonek, suporter Persebaya Surabaya.

Sehari berselang, grup B pun mulai menggelar pertandingannya. Persik bertemu dengan Persija di Stadion Manahan, Solo, untuk menggelar pertandingan perdana grup B. Sebuah pertandingan yang menarik sebenarnya, jika tak ada tindakan yang tidak perlu. Pertandingan ini pun tak ubahnya medan perang di Kediri. Seluruh pemain dan ofisial kedua tim ikut tegang. Bahkan pelatih Persija asal Moldova, Sergei Dubrovin dilarang terlibat dalam kegiatan sepak bola di Indonesia selama dua tahun karena terbukti memukul punggung Asisten Wasit I, Udin Sumarsyah. Di akhir pertandingan, pemain kedua kubu pun terlibat adu fisik. Abanda Herman dan Christian Gonzales saling tendang. Kiper Persija asal Moldova, Evgheny Khmaruk, ikut mengejar dan menjepit leher Gonzales menggunakan lengannya.

Dua pertandingan diatas saya rasa sudah cukup untuk memberikan gambaran tentang mental suporter, pemain, dan ofisial klub-klub di seluruh Indonesia. Hal ini sangat ironis. Karena pada Piala Asia 2007 di Jakarta kemarin, seluruh suporter di Indonesia melupakan rivalitas mereka dan bersatu dalam mendukung perjuangan Tim Merah Putih.

Selalu saja terjadi kerusuhan saat ada keputusan wasit yang dianggap salah. Misalnya di Kediri, Jajat Sudrajat yang ditunjuk sebagai pengadil antara Arema dan Persiwa terlihat lebih memihak Persiwa. Sebagai contoh, di menit ke-51, gol Emile Mbamba kembali dianulir wasit karena dianggap telah offside. Itu adalah gol ketiga Arema yang dianulir Jajat. Padahal dari replay, jelas-jelas gol Mbamba itu bersih dan tidak berbau offside.

Selain faktor wasit, faktor emosi merupakan hal yang paling berpengaruh dalam pertandingan sepak bola. Apalagi dalam babak 8 besar LI seperti kemarin, dimana banyak tim-tim besar didukung suporter fanatiknya. Sedikit saja wasit membuat kesalahan dalam mengambil keputusan, amarah akan tersulut. Jika hal ini tidak segera diperbaiki, bukan tidak mungkin kejadian minggu ini kembali terulang.

Sekarang mari kita bandingkan dengan iklim sepak bola luar negeri. Kita ambil saja contoh dari liga paling atraktif di dunia, English Premier League (EPL). Meskipun suporter sering merasa dikecewakan oleh wasit, tapi sangat jarang timbul kerusuhan seperti di Indonesia. Hal ini karena mental mereka yang sudah tertata dengan baik. Mereka menganggap sepak bola adalah permainan, dimana kalah-menang adalah hal yang biasa. Hal inilah yang belum banyak dipraktekkan di Indonesia. ;)

Kembali ke Indonesia. Apakah kita ingin tetap seperti ini? Apakah kita ingin sepak bola kita semakin hancur? Ataukah kita ingin mengembangkan iklim dan aura positif sepak bola Indonesia? Saya kembalikan pertanyaan ini kepada kalian-kalian yang merasa suporter fanatik klub.

Jujur, saya merasa kecewa dengan kondisi sepak bola Indonesia yang tak kunjung membaik. Jika kalian ingin mencetak prestasi di tingkat internasional, lebih baik perbaiki dulu mental kalian. Karena mental kalian saat ini benar-benar memalukan. :(

Sumber:
Gawang terbakar Persiwa vs Arema dari okezone.
Suporter Chelsea dari Geocities.

About these ads

Tentang Reinhart

Don't wait. The time will never be just right.
Tulisan ini dipublikasikan di My Interest, My Thoughts, Olahraga Nasional, Sepak Bola. Tandai permalink.

23 Balasan ke Kalian… MEMALUKAN

  1. p4ndu_454kura berkata:

    Tolong jangan ada debat kusir. Saya hanya ingin menyatukan seluruh suporter klub-klub di Indonesia agar tidak ada lagi kerusuhan. :)

  2. Hoek Soegirang berkata:

    ndak fernah ada ferubahan…
    endonesa oh endonesa…….

  3. Goenawan Lee berkata:

    Ndak bola lah, pemilu lah, agama lahhh… Cari pembenaran melulu. :lol:

  4. deteksi berkata:

    sepakbola kita itu gak lebih dari kumpulan preman!!!!!!!

    baik bosnya, pelatihnya, pemainnya, bahkan supporternya! mau jadi apa Indonesia kalo seperti ini terus. jujur saja supporter bola kita itu lebih mengkader remaja untuk jadi berandalan. lihat saja di jalan2 kalo lagi musim bola, mereka menyetop kendaraan seenaknya sendiri. gak mau, dipukul pake kayu!!!

    saya sendiri kalo nonton bola mendadak ikut brutal. teriak-teriak sendiri!!!!

    tanda-tanda apa ini? :d

  5. -rEi_chaN- berkata:

    yeah…yeah…

    masyarakat indonesia tidak bisa menggunakan cara kerja otak dengan baik ! emosi melulu !

    apa sih untungnya marah2 ?
    ujung2nya kan dihukum ga boleh nonton bola slama 3 taun!
    malah,sengsara tho..

    dikit2 demo ! masyarakat indonesia ga bisa tertib, disiplin, dsb…

  6. Ai_Mori berkata:

    Ya!ya!diadili ae!

  7. Ai_Mori berkata:

    Sorry!sorry!maksudku di beri hukum yg tegas.tapi ya percuma di terbitkan hukum melulu….,rakyatnya tetep2 aja,bahkan makin parah.

  8. Bola ‘kan satu – satunya olahraga yang dananya bisa melebihi gaji orang – orang DPR. Yang saya heran, itu supporter nggak kecipratan uangnya, tapi tetap membela klubnya sampai mati. :lol:

  9. Ai_Mori berkata:

    wow! hebat juga kata-katanya. :shock:

  10. p4ndu_454kura berkata:

    @ Hoek Soegirang + Goenawan Lee :lol:
    @ deteksi
    Tanda-tanda jadi preman? :mrgreen:
    @ -rEi_chaN-
    Itulah Indonesia. Sering bertindak dengan otot, bukan dengan otak.
    @ Ai_Mori
    Yah, masa ga tau Indonesia. Hukum dibuat untuk dilanggar.
    @ Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Udah nggak kecipratan dana, taruhannya nyawa lagi. :mrgreen:

  11. Ai_Mori berkata:

    Hoya,ya

  12. OngisNade.Net berkata:

    slm kenal
    hehehe, lucu juga ya baca komentar2 di atas, emg semua pendapat itu tergantung latar belakang orgnya, kalo org ga ngerti bola, ya pendapatnya jauh dari “bola” itu sendiri, tul ga? mas pandu yg arek suroboyo pastilah ada “darah” bola, sebagaimana kami org malang yg menganggap Arema adalah hal kedua setelah agama, kalo ga percaya silahkan baca “Football is our Religion”

    suporter memang hanyalah obyek dari sepakbola itu sendiri, tapi perubahan sepakbola kita berada di tangan suporter, karena ini lah yg nyata, terlalu utopis kalo kita mengharapkan PSSI (utopis atau pesimis)?

    at least… slm damai dari aremania blogger

  13. maxbreaker berkata:

    kapan sepakbola Indonesia bisa mju kalau kek gini terus?
    lam kenal yaks…

  14. ulan berkata:

    ini sepak bola apa sepak wasit ya??

  15. Cynanthia berkata:

    Nyah, beginilah kalau orang lebih mengedepankan emosi daripada logika dan akal. :evil: Kayak kerbau aja, malah perasaan kerbau nggak sebodoh itu.

  16. p4ndu_454kura berkata:

    @ OngisNade.net
    Yaah… itu sih tergantung persepsi tiap orang.

    suporter memang hanyalah obyek dari sepakbola itu sendiri, tapi perubahan sepakbola kita berada di tangan suporter, karena ini lah yg nyata, terlalu utopis kalo kita mengharapkan PSSI (utopis atau pesimis)?

    Makanya itu, kita (suporter) sebagai salah satu pelaku utama selain klub dan ofisialnya, harus bisa menciptakan suasana yang aman dan kondusif. Sedangkan PSSI kan hanya sebuah wadah yang menampung dan mengelola Liga Indonesia, jadi jangan berharap terlalu banyak dari mereka.

    at least… slm damai dari aremania blogger

    Salam kenal juga. Keep up the creativity. :)
    @ maxbreaker
    Mungkin 100 tahun lagi kalo keadaannya begini terus. :mrgreen:
    @ ulan :lol:
    @ Cynanthia
    Malah saya pernah dengar ungkapan “manusia harusnya malu kepada hewan”. Kayaknya itu emang bener, deh. :?

  17. mahma mahendra berkata:

    liat topik minggu ini di sctv tadi malem g? disitu keliatan klo induk dari semua permasalahan adalah pssi. di acara itu nugraha besoes sebagai sekjen pssi (dimana ketuanya dipenjara jadi g bisa hadir)tak bisa berkutik dengan perkataan aremania dan jakmania serta wartawan dari kompas. karena banyak sekali permasalahan internal pssi yang belum selesei2. dan akhirnya diancam oleh menpora klo dalam 1 th semua masalah pssi g slese liga indonesia akan dihentikan

    pernah liat filem green street holigans g? katanya sih diilhami dari holigans inggris. di filem situ para supporter emang gak bertarung di dalam lapangan, tapi mereka bertarung diluar lapangan.

  18. p4ndu_454kura berkata:

    Wah, sayang saya ga lihat. Pasti acaranya kemarin seru. Yah, salahnya PSSI sendiri. Ketua penyakitan seperti itu kok dipertahankan. ;)

  19. Anas berkata:

    saya merasa kecewa dan menyesalkan perbuatan anarkis aremania. padahal mereka merupakan panutan bagi supporter lain karena mereka dianggap paling baik.

    ————–
    Begitu bobrokkah persepakbolaaan kita?

  20. p4ndu_454kura berkata:

    Sebenarnya Aremania nggak bisa disalahkan begitu saja. Mereka tidak akan bertindak tanpa sebab.

    IMO, yang patut disalahkan adalah Jajat Sudrajat. Dia sama sekali tidak berusaha meningkatkan kualitasnya sebagai wasit. Bahkan sebagian besar pertandingan yang dipimpin Jajat selalu berakhir dengan kerusuhan. Dan hal itu semakin menambah buruk citra persepakbolaan Indonesia.

  21. bodrox berkata:

    sekarang dah semifinal…
    doain SFC juara ya…

  22. p4ndu_454kura berkata:

    Amiin…
    Siapapun yang juara ga masalah, yang penting jangan ada kerusuhan lagi. :D

  23. Jhon berkata:

    biang provokator tuh arema

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s