Dilema Sebuah Berita

Sekarang ini, nyaris tidak ada orang yang tidak kenal dengan koran. Media publikasi yang satu ini merupakan media termurah yang bisa didapatkan oleh masyarakat. Selain koran, masih ada lagi media tulis lain seperti tabloid, majalah, dan sebagainya. Beritanya bermacam-macam. Mulai dari politik, kebudayaan, kriminalitas, olahraga, hingga tren hidup masa kini.

Sejauh ini kita tinggal menikmati berita hasil buruan para wartawan yang di koran dan majalah. Kita tidak tahu permasalahan apa yang dihadapi oleh sang penulis berita sebelum berita tersebut diterbitkan.

Untuk sedikit mengetahui permasalahan apa yang mereka hadapi, berikut ini saya tampilkan sebuah diskusi singkat. Diskusi ini diambil dari milis komunitas ayah saya, yang sebagian anggotanya berprofesi sebagai jurnalis.

SGP:
Halo RIF,
Wah, di negaramu Kalimantan Timur, tepatnya di Nunukan, sedang perang suku lagi ya. Kali ini antara Dayak dan Bugis setelah dulu membabat orang Madura. Perang kok nggak ada habis-habisnya. Topiknya rebutan proyek dan jabatan ya. Orang-orang Dayak yang tersisih itu kemudian mengamuk dan menyatakan perang.
Lantas bagaimana peranmu untuk memberadabkan orang Kalimantan agar tidak bertikai dan perang?

RIF:
Saya katakan: tak benar ada perang suku.
Yang benar, ada orang yang mangkel karena kalah tender dan kebetulan orang itu orang Dayak, sedangkan si pemenang tender adalah orang Bugis yang memang banyak temannya di pemerintahan yang juga banyak orang bugisnya. Kemudian singkatnya saling mengancam antar kelompok. Yang namanya kelompok tentulah karena ada persamaan kan. Baik sama sama Bugis atau sama-sama Dayak.

Sangat tidak relevan kalau kita menulis sebuah perkelahian biasa yang mungkin karena perjudian atau perempuan atau apalah dengan menyebut: SGP yang beretnis Jawa ditikam hingga tewas oleh RIF yang beretnis Banjar.

Memang di Nunukan itu sempat ada gesekan antar kelompok yang sekali lagi kebetulan dibedakan karena sukunya. Mereka saling mengancam. So What? Biarkan polisi sana menyelesaikannya. Berita memang beredar, tapi di kalangan intel dan wartawan aja. Berapa sih jumlah intel?

Lagian Nunukan itu kan kecil banget, orang Kaltim aja banyak yang gak tahu Nunukan di mana. Yang dikhawatirkan justru wartawan, terutama wartawan di daerah yang bekerja untuk media nasional dan wartawan dari luar Kaltim. Mereka banyak yang seenaknya aja nulis tanpa verifikasi bahkan tanpa sumber jelas dan data akurat. Dan celakanya tidak ke tempat kejadian, karena umumnya mereka ngantor di Balikpapan atau Samarinda.

Yang setengah mati kami media lokal yang cinta tanah tempat kami bekerja ini: berupaya mendinginkan gesekan yang hampir saja dibuat oleh media menjadi api dan kebakaran besar.

Aku meminta dan menelponi sejumlah watawan media nasional di sini untuk melihat perkembangan, dan tidak memberitakan apa yang ada dulu tapi meralatnya kemuduian kalo ada yang salah, layaknya sering dilakukan sejumlah media nasional tentang berita daerah.

Untunglah mereka masih mau mendengarku yang mereka anggap tua ini — ah, ternyata aku sudah tua — dan aku berterima kasih kepada mereka karena tak ada berita yang keluar.

Mungkin aku menghalangi hak publik untuk tahu, tapi aku punya alasan untuk itu. News kan bukan 5W 1 H aja. Ada juga I nya. Impact-nya atawa dampaknya. Bayangkan dampaknya kalo koranku memberitakan: “Suku Dayak di Nunukan meminta ganti rugi 100 ekor sapi kepada suku Bugis atas perlakukan curang mereka. Kalau kurang dari jumlah itu maka suku Dayak akan menyatakan perang terhadap suku Bugis”.

Bagaimana kalau orang Bugis di Balikpapan, Samarinda, dan 11 kab/kota lain di Kaltim membaca itu. Reaksi mereka tentu berbeda-beda. Tapi dipastikan ada ada yang tersinggung dengan pernyataan itu dan langsung menyatakan perlawanan, orang Bugis kan juga dikenal keras. Akibatnya: perang suku beneran dan media berperan mewujudkan itu.

Menurutku, media bisa menghentikan konflik bukan dengan hanya memberitakannya, tapi juga dengan tidak memberitakannya. Ini kan cuma gesekan, bukan api, di tempat yang keciiiiil banget pula. Biarlah nanti dingin sendiri kena angin atau diselesaikan oleh aparat setempat.

Aku yakin media akan menjadi kaca pembesar kalau memberitakan hal ini. Seobjektif apa pun, pemberitaan tetap akan mengangkat ini ke permukaan. Orang yang tadinya gak tau jadi tau. Orang yang tadinya tenang-tenangnya aja, mungkin jadi gelisah. Muncullah kasak-kusuk dll.

SPD:
Setuju 100 persen. Andai kearifan RIF ada di semua kita….

ZA:
[...]saya ingin menyatakan rasa bangga saya membaca tanggapan Mas RIF tentang “perang antarsuku” di Nunukan. Sungguh pengamatan dan pitutur yang sangat bijak. Benar kata orang, untuk menjadi bijak memang tak harus menunggu tua. Bahkan betapa banyak orang yang makin tua hanya bertambah usia, tapi tidak membuatnya bertambah dewasa.[...]

RIF:
Wah, jadi malu (*tersipu mode ON) dan nggak enak nih (atau malah jadi enak ya…?) dapet tanggapan dari Al Mukarom Pak ZA himself ….dibilang bijak pula…..itu kan cuma arti dari nama saya aja ha ha ha…
Kalau misalnya bijak beneran pun, itu juga karena banyak belajar dari Pak ZA yang kerap menuturkan hikmah dan kebijaksanaan beliau di sela-sela waktu menunggu pintu bioskop dibuka……wah, jadi kangen nonton bareng nih….film Transformer dahsyat lo Pak..
Bagaimanapun, terimakasih buanyaaaak Pak ZA telah sudi menanggapi.

SGP:
Haloo RIF,
Saya membaca konflik Dayak Vs Bugis dari internet. Dan sangaatttt prihatin sebab begitu gampang bangsa ini pecah, diadudomba, tawuran, gara-gara masalah sepele bukan menyangkut hajat hidup orang banyak. Di Nunukan itu kan rebutan proyek para makelar.
Masih ingat kan, perang Maluku yang memporakporandakan rumah harta benda itu gara-gara perkelahian preman terminal Ambon. Perang Dayak-Madura di Kalimantan (mohon maaf aku suka gunakan kata ‘perang’ drpd konflik, gesekan yang kurang dahsyattt maknanya) cuma gara-gara preman Sampit bentrok di lokalisasi pelacuran.

Dan kini, negara ini di ambang pecah. RMS ternyata masih gerilya, OPM benderanya terus berkibar dan terang-terangan menuntut merdeka. Dan Timtim merdeka gara-gara preman Australia, John Howard ngancam Habibi. Belum lagi ada politisi daerah yang menuntut propinsi dan kabupaten sendiri pisah dari induknya hanya semata-mata karena ingin jabatan bukan memakmurkan rakyat.

Lebih prihatin lagi di negara ini ternyata banyak tukang kompor mulai aktivis LSM, pengamat, politisi, dan makelar politik. Kalau pejabat negara ini tetap korup dan tidak menyelesaikan daerah yang bergejolak maka sebentar lagi negara ini pasti pecah.

Media seringkali gamang menyikapi kondisi ini. Ada yang penuh kesadaran, kebijakan, dan penuh pencerahan kayak kamu tidak memuatnya tapi ada media yang langsung gampar saja karena sekarang siapa yang ngontrol media bahkan yang kecil-kecil. Kalau zaman Orba dulu cukup Bakorstanasda telepon semua Pimred takut.

Kita ini kadang ingin memberitakan ketimpangan di masyarakat untuk menghantam penguasa yang bobrok dan korup. Tapi dampak berita itu ternyata ada efek sampingnya makin menyulut emosi rakyat yang bertikai.

Menurut saya, kita proporsional saja. Atau kalau lagi bingung… ya tanya hati nurani saja apakah konflik itu pantas dimuat atau tidak.

———————————————–

Nah, bagaimana menurut Anda semua? :?

37 Tanggapan ke “Dilema Sebuah Berita”


  1. 1 kenapa? Juni 24, 2008 pukul 10:43 am

    Saya baru saja mencari cari sumber berita lain tentang konflik nunukan ini. tetapi saya mendapati penulisnya sama semua, Charles Siahaan.

    Dan saya lihat di sini http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=8&dn=20070708202019
    juga oleh Charles Siahaan, Kemudian izinkan saya copy paste beberapa comment dari mungkin warga2 nunukan disana;
    1.Wawiadi Rahim
    “Sakir dan charles adalah orang-orang kecewa dengan bupati nunukan, jadi jangan dipercaya informasi yang menyesatkan ini yang cenderung dibesar besarkan padahal tidak besar, untuk sakir saya tunggu kamu kapan kamu mau adu jotos, saya wawiadi rahim menantangmu, sayalah yang memicu maslah dinunukan, asal tau aja sakir saya mau jadi “anggota DPRD jadi jangan macam-macam di nunukan, bupati pun aku anggap kecil sekarang tidak ada apa-apanya, mohon diterbitkan ini komentar jangan diedit sedikitpun, karna saya mau terang-terangan dengan sakir,makasih”

    2.Beddu
    “Apa yang di paparkan oleh penulis terlalu jauh panggang daripada api, justru tulisan ini dapat lebih memperkeruh suasana nunukan yang sudah kondusif, saran saya kepada redaksi kabar indonesia, agar berita tersebut selayaknya dihentikan, karena charles dan sakir tidak objektif, terlalu subjektif menuliskan kejadian tersebut, janganlah lagi dikompori masyarakat nunukan dengan tulisan yang tendensius, karena kami sebenarnya tahu bagaimana sepak terjang anda berdua di otonomi center….!!!!, selalu ingin mencari – cari kesalahan tanpa memberikan solusi bagi kita semua”

    3.Sara Timbang
    “Alhamdulillah Kondisi Kami di Nunukan sampai dengan detik saya tulis ini masih aman. Hanya orang orang yang tidak tau situasi saja yang membesar besarkan masalah. Salam.”

    4.Anton Taufiq
    “Penulis berita sangat tidak objektif melihat kondisi yang terjadi dilapangan, mereka terkesan emosional dan cenderung memperkeruh masalah, padahal yang sebenarnya bukan masalah, dari tulisan yang diterbitkan,membuat banyak masyarakat di indonesia mencemaskan keluarganya yang bermukim di pulau nunukan, nunukan memang sempit tapi jangan dipersempit dengan gejolak problem apalagi menyangkut etnis, penulis berita juga menyinggung masalah SARA di nunukan padahal itu tidak ada sangkut pautnya dengan SARA, hanya kesalahpahaman yang terjadi ketika lelang proyek di kantor PU, jadi untuk yang menulis berita tentang kisruh dinunukan tolong di perbanyak membaca etika dan teknik penulisan Jurnalistik, sehingga mampu mengimbangi informasi yang akan dijadikan berita, nunukan sekarang aman jangan di buat tidak aman,untuk kabar indonesia, mohon kritikan saya ini di kirim ke email penulis M.sakir dan charles mereka orang-orang kecewa, kalah dalam pemilihan bupati dan wabup di nunukan”

    5.Masyarkat Nunukan
    “Karena kepentingan segelintir oknum masyarakat yang tidak tahu apa – apa yang jadi korban, siapa yang salah dan yang benar, m. sakir dan charles siahaan tidak objektif menulis berita banyak berita yang terlalu dilebih lebihkan (tidakobjektif) penulis terkesanterbawa emosi kenapa? siapa M. Sakir dan siapa charles siahaaan? merekakan juga orang yangmerasa termarginalkan karena merekasalah satu tim sukses pilkada nunukan kemaren, contoh kalimat arogansi dari salah satu ormas yang ada di nunukan,arogansi bagaiman padahal ormas tersebut terbukauntuk siapa saja, ???? semoga Allah SWT memeberikan pencerhan dihati mereka agar cahaya kebenaranmenujuhati nya. semoga masyarkat nunukan terbebas dari upaya profokasi yang memecah belah, salut untuk Insiyur. HAJI PARIDIL MURAD, Master Of Sains, seorang tokoh dan ketua PUSAKA,kebenaran akan munculAllh SWT akan memberitahukan kepada selruh masyarkat nunukan siapa anda?”
    semogaandadapt menjadi Bupati Nunukan priode 2011 – 2016,Amin

    6.Andi
    “Hai pemimpin nunukan jangan terlalu banyak kkn lah permainan kalian itu semua orang sudah tau itu jangan sampai memancing terjadinya konflik,kasian kan rakyat yang tidak tau menau”

    Oh ternyata begitu toh

    Maaf kepada para pembaca atas postingan comment saya yang pertama jika terlalu emosional menanggapi berita seperti ini.

    SEKARANG SAYA TAHU KALAU BERITA KONFLIK NUNUKAN INI LEBIH BANYAK MEMUAT PROVOKASI UNTUK MEMECAH BELAH MASYARAKAT AWAM

    dari saya keturunan bugis, Salam damai untuk seluruh saudara saudaraku masyarakat asli kalimantan.

  2. 2 Nunukan Mei 7, 2009 pukul 12:26 pm

    Berita, tetaplah berita, lebih bagus daripada diam membisa seperti penakut. Faridil Murad itu siapa? bukan dayak! faridil murad itu orang GILA JABATAN, aneh kalau jadi anggota PUSAKA.

  3. 3 Fakhri Juni 8, 2009 pukul 8:10 pm

    maaf klo gw ngomong kasar
    tp emang ga ad anak yg suka orang tua nya d hina
    d blg gila jabatan lah…
    mohon d mengerti

  4. 4 Reinhart Velatrache Juni 10, 2009 pukul 10:51 am

    @ Nunukan
    Lebih baik diam daripada memberikan berita yang tidak seimbang. Maaf, bung, dalih supaya tidak hanya diam seperti penakut bukanlah pembenaran untuk bisa seenaknya menulis berita. Sebaiknya Anda baca ulang artikel utama saya.

    Dan berita pun bukanlah pembenaran untuk kita memberi cap kepada orang lain begitu saja. Apakah Anda sudah mengenal orang yang Anda sebut gila jabatan itu? Sudah tau kepribadiannya? Hebat juga, ya… :D

    @ Fakhri Murad, Fakhri
    Jangan terlalu ditanggapi, mas. Orang yang berkomentar kayak gitu biasanya cuma pencari personal army. :mrgreen:

  5. 5 fakhri murad Juni 12, 2009 pukul 5:48 am

    bs tolong hapus komen saya terdahulu ?
    saya tidak enak jg berkomentar seperti itu
    saya kemarin berkomentar seperti itu krn emosi saja

  6. 6 Reinhart Velatrache Juni 12, 2009 pukul 10:05 am

    Oh, OK kalau Anda sendiri yang minta. Saya sih nggak keberatan, tapi saya sisakan satu yang terakhir saja, ya? Supaya diskusinya bisa nyambung. :D


  1. 1 Kita Hidup oleh Sejarah « Chaos_Region.html Lacak balik pada Agustus 7, 2007 pukul 3:24 pm

Tinggalkan Balasan




"Never lose yourself. If you do, you can't solve anything."

"Nobody is evil. They just don't know which way is right."

Yoh Asakura's quote

(Shaman King)

____________________

Welcome to my blog, which all about my ramblings, thoughts, and anything I'm interested in. You may use this blog contents as your reference, or even source. If you do, please state this blog inside your post, which is relevant to this blog. But please don't copy the content. It's not worth to be copied.

If you wanna know more about me, who is behind-the-scene of this blog, you can visit this, this, and this.

If you a bit confused here, or not find your favourite articles on the main page, I suggest you to go to the Index Page. Moreover, I also suggest you to go to my friend's trusted blogs/sites right here.

What? You want to request some articles or lyrics? Then try to visit this. Or maybe you just want to talk about anything happen anywhere in the world? Then you should visit this one.

Thanks for visiting here, I hope you're willing to drop some comments and come back here again sometimes.

Campaigns


Pemilik blog ini ikut kompetisi blogging British Council. Kamu ikut juga?

Baca post-nya, pahami intinya, dan berikan komentar yang pas.

Saya berani memilih, saya berani untuk tidak golput.

Wanna See My Personality?

Click to view my Personality Profile page

Kategori Rune


Blog ini dibuat dengan bantuan dari wordpress.com menggunakan theme K2Lite.

Header Balthier by Aichiko Yoshida. (edited by P4ndu_454kura).

Laba Bulanan

Ngobrol Yuk

Yahoo! Account: youmi_cave

RSS Reinhart On the Line.

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Practicing Pupils

site statistics

Banners


Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

Pandu Gilas Rank


Hentikan budaya Copy-Paste content blog. Kalau mau CP, tanya dulu pada pemiliknya.

teman-sejati.jpg
Teman sejati selalu menemanimu.

Merokok = membakar uang kita. Lebih baik sumbangkan untuk yang kurang mampu.


Pemilik hape SonyEricsson.

Rune Users

  • 341,965 Users